Bosan Jadi Pegawai? Ya sudahlah, Resign saja,,,

|


#NITIZEN.com - Kompasiana(Chris Suryo), Tentunya sah-sah saja kalau kita mempunyai “mimpi” menjadi “bos” untuk diri sendiri. Dalam arti memilki usaha dan penghasilan sendiri. Bekerja tidak “terkekang” oleh perintah atasan, aturan tentang jam kerja dan sebagainya.
Berwirausaha dan menjadi pengusaha, atau istilah kerennya enterpreneur. Apalagi sejak “kampanye” agar masyarakat memiliki semangat berwirausaha itu digalakkan, “demam” keinginan untuk mendirikan bisnis sendiri itu semakin menggejala. Terutama UKM (Usaha Kecil Menengah). Wajar karena memang jumlah lapangan kerja yang ada cenderung tak sebanding dengan pencari kerja.

Demam berwirausaha itu melanda banyak lapisan masyarakat, dari yang berstatus pencari kerja, mahasiswa, bahkan karyawan yang notabene sudah memiliki pekerjaan. Tak masalah dan bagus-bagus saja mereka yang berstatus pencari kerja mengalihkan keputusannya dengan berwirausaha. “Agak” menjadi pertanyaan dan cukup disayangkan ketika masih berstatus mahasiswa atau lulusan pendidikan tinggi yang memiliki potensi ternyata “banting setir” menjalankan usaha yang bersifat “kaki lima”.

Meskipun bukan berarti tak menghargai makna sebuah semangat berwirausaha, pertanyaan dilematis yang wajar mengemuka saat “produk” pendidikan tinggi itu “hanya” berpuas diri dengan membuka usaha “gerobak”an. Kalau tak salah, Rhenald Khasali pun “menyayangkan” hal ini. Walaupun banyak usaha kecil dari gagasan mahasiswa/jebolan perguruan tinggi semacam ini yang difranchisekan, beliau lebih cocok menyebutnya sebagai “gerobakchise”. Bisnis sekelas kaki lima yang dari sisi lain bisa dipandang “mengambil jatah” pedagang kaki lima yang sesungguhnya. Intinya, mahasiswa/produk perguruan tinggi seharusnya memiliki potensi lebih dari itu.

Lalu, bagaimana dengan karyawan yang juga mengalami “demam” wirausaha juga? Baik karyawan swasta, PNS, anggota Polri/TNI dan sebagainya tentu tidak bisa serta merta dijawab dengan boleh atau tidak boleh saja. Masing-masing memiliki keterikatan pada peraturan dalam organisasi/institusinya. Tapi secara umum, karyawan dapat dimaklumi untuk memiliki usaha, di antaranya dengan pertimbangan penghasilan yang tidak mencukupi, karier yang mentok ataupun persiapan pensiun, sebatas tidak mengganggu jam kerja, konflik kepentingan atau merugikan tempat di mana mereka bekerja saat itu.

Namun yang menjadi masalah dan keraguan besar adalah praktiknya. Yakni, apakah bisnis itu benar-benar tidak “mengganggu” profesionalitasnya dalam bekerja sebagai karyawan? Yang pasti, hal ini hanya bisa dijawab dengan kejujuran pelakunya sendiri. Yang paling disayangkan adalah ketika karyawan itu “mau enak”nya sendiri, “berpijak di dua kaki”. Biasanya pola seperti ini dilakukan oleh karyawan yang memiliki jiwa wirausaha “nanggung”. Tugas-tugas profesi utamanya terabaikan atau lebih mengutamakan mengelola usahanya. Pada ujungnya dia akan bekerja ala kadarnya yang penting gaji tetap didapatkan, usaha lancar. Alih-alih melaksanakan pekerjaan secara profesional, bahkan jam kerja atau fasilitas kantor pun digunakan untuk kepentingan bisnisnya.

Kejadian seperti ini tak dipungkiri sering terjadi. Contoh-contoh kecil saja: jam kerja di gunakan untuk menawarkan dagangan kepada rekan kerja, mengajak menjadi member MLM, menjual polis asuransi di kantor, sering ijin padahal mengurus bisnis dan sejenisnya. Sayangnya, mereka yang menjalankan praktik-praktik ini seringkali terang-terangan menyatakan “kebanggaan”nya karena merasa sebagai karyawan yang berjiwa “enterpreneur”.

Merasa seolah patut menjadi “inspirasi” bagi rekan kerja lainnya dengan petuah bak motivator bisnis dengan menghembuskan semangat memiliki usaha. “ Gimana mau kaya, punya rumah, punya mobil dan lain-lain kalau Cuma ngandalin gaji karyawan?” atau “ Nggak bosan jadi karyawan, kerjanya cuma nurutin perintah atasan, menunggu gaji bulanan, telat masuk gaji dipotong? Bikin usaha Broooo,..bisniss,...bisnisss..!!, baca contoh buku ini..buku itu..buku-buku sukses, doong!” kurang lebih seperti itu rayuannya.

Tak menutup kemungkinan, “contoh” dari karyawan seperti itu bisa “menginspirasi” dan menular kepada karyawan lainnya. Bisa berakibat baik secara langsung atau tidak pada organisasi tempatnya bernaung. Paling tidak karyawan tipe ini sulit diandalkan untuk bekerjasama secara optimal dalam memajukan organisasi/perusahaan. Dan “racun enterpreneur” sejenis ini sangat mungkin menggerogoti semangat kerja karyawan lain yang ingin bekerja secara loyal/profesional. Tentu ada yang melihat, menilai, atau rasa mengganjal di hati, namun untuk melaporkan ke atasan ataupun mengingatkan tertahan oleh sifat sungkan. Padahal dalam hati ingin mengatakan,” Bosan jadi karyawan? Ya, sudah, sana keluar saja!”

Sekali lagi, semangat berbisnis, berwirausaha, enterpreneur atau apalah itu sebutannya, tentu bagus-bagus saja, asal konsekuen, fokus dan memandang realita sekarang ini kita berpijak di mana. Jadi karyawan pun patut disyukuri.

Sumber: Chris Suryo/kompasiana.com

Related Posts